Sabtu, 25 November 2023

Tertarik Dengan Jurnalistik? Mahasiswa PBSI UMMI sudah Mulai Aktifloh di Bidang Tersebut, Yu Kepoin Perusahaannya

 


Penulis: Sulistina, Salwa
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan, Dhe Liana Futri

Sukabumi, Suara Perempuan – Terbentuknya sebuah perusahaan tentu mempunyai sebuah nama. Sehingga, telah disepakati oleh anggota kelompok dan disetujui oleh pimpinan perusahaan bahwa kelompok kami akan menggunakan nama "Suara Perempuan".

"Suara perempuan" diambil dari dua kata."Suara" & "Perempuan". Kami mengambil kedua kata tersebut karena pembahasan yang kami bahas mengenai perempuan. Dan makna dari "Suara perempuan" adalah bahwa adanya suara perempuan ini, semoga mampu memberikan inspirasi dan dukungan penuh terhadap kemajuan bangsa ini.

Maka dari itu, tentunya kami mempunyai slogan yang sangat menarik yaitu "Perempuan Pintar, Dunia Hebat". Oleh sebab itu, dalam pembuatan slogan tentu memiliki filosofi yang sangat berpengaruh dalam menerapkan suatu maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Berikut ini merupakan filosofi dari slogan kami.

Terdapat sebuah syair arab dikatakan الأم المدرسة "Ibu adalah sekolah pertama untuk anaknya". Itulah mengapa kami mengambil slogan "perempuan pintar, dunia hebat" karena sebagaimana yang kami ketahui "semakin berkualitas ibu nya maka semakin berkualitas pula anaknya" Perempuan pintar & hebat akan menghasilkan generasi muda yang pintar & hebat pula dan ini akan menjadikan dunia semakin hebat. Slogan kami juga menekankan bahwa ketika perempuan diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, mereka memiliki potensi untuk berkontribusi secara signifikan dalam membangun dunia yang lebih baik.

Untuk itu, slogan ini menekankan bahwa perempuan memiliki dampak positif pada perbaikan dunia, karena perempuan yang cerdas dan berpengetahuan dapat berperan penting dalam menciptakan perubahan positif dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Dapat dilihat pada gambar di atas bahwa logo tersebut terdiri dari beberapa elemen-elemen dan mengandung arti sebagai berikut:

·     Merah Putih Berkibar: melambangkan bahwa bendera bisa dikibarkan oleh para perempuan Indonesia artinya perjuangan perempuan pantang menyerah ketika mempertahankan dan menjunjung kemerdekaan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

·    Wajah perempuan: representasi dari sikap dan tindakan perempuan berdaya yang tegas namun lembut penuh cinta, menatap ke depan penuh percaya diri, dan tangguh menjalankan peran dalam berbagai aspek kehidupan secara seimbang dalam kesetaraan.

·    Gulungan ombak: bukti kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsa dan negara.

·       5 helai kelopak bunga diatas kepala wanita: sebagai simbolisasi Pancasila.

Jumat, 24 November 2023

Bisa menjadi Penulis dan Penerbit Sekaligus menjadi Ibu Rumah Tangga Merupakan Bukti Bahwa Perempuan Itu Hebat



Penulis: Sulistina, Salwa
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan, Dhe Liana Futri

Sukabumi, Suara Perempuan – Ibu Vina Sriwidianti merupakan anggota Partai PKS Sebagai Sekretaris Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga. Ibu Vina Sriwidianti merupakan calon anggota Dewan di Dapil dua daerah Baros, Cibeureum dan lembursitu atau bisa disingkat Bacile.

Alasan tersendiri Ibu Vina Sriwidianti setelah di calonkan anggota dewan“melaksanakan amanah, anggota dewan perempuan ini penting kenapa karena yang mengetik perempuan itu perempuan lagi, jadi mengangkat isu perempuan itu penting isu paling penting KDRT dan perempuan bekerja, Perempuan butuh perhatian khusus biasanya perempuan lebih paham.

Kendala Menjadi calon anggota dewan Perempuan menurut Ibu Vina Sriwidianti yaitu waktu karena Ibu rumah tangga pasti di rumah mengurus anak. Ibu Vina Sriwidianti ini dicalonkan dan diamanahi sebagai calon anggota dewan di dapil satu.

Pendapat Ibu Vina Sriwidianti terkait untuk apa sih perempuan sekolah tinggi-tinggi kembali lagi ke kasur sumur “sebenarnya gk ada yang salah Perempuan itu pasti kembali ke keluarga hanya yang harus di garis bawahi adalah bahwa perempuan itu adalah ibu Madrasah pertama bisa kita lihat bedanya anak yang didik oleh misalnya S1, S2, atau S3 dengan yang tanpa pendidikan dengan catatan kecuali misalnya yang memang berpindidikan rendah mau belajar secara logis tingkat pendidikan membedakan pola pikir”(08/11/2023).

Selain Ibu rumah tangga Ibu Vina Sriwidianti kegiatan yang lain secara pekerjaan penulis, editor dan mentor. Ibu Vina Sriwidianti juga merintis penerbitan selama tiga tahun. Selain Ibu rumah tangga Ibu Vina Sriwidianti ini aktif dalam beroganisasi.

Alasan Ibu Vina Sriwidianti sebagai penulis “untuk ibu rumah tangga bagus ya yang pertama waktunya fleksibel kemudian yang kedua ibu rumah tangga itu rawan stress karena dirumah situ-situ aja sedangkan seorang perempuan butuh aktualisasi diri salah satunya adalah dengan menulis, karena saya dulu menulis karena saya agak kesulitan pemahaman apa yang saya pikirkan itu lebih lancar dengan menulis, kemudian karena anak-anak saya ingin membaca karya saya".

Kesulitan menjadi penulis Ibu Vina Sriwidianti “yang pertama pasti waktu apalagi punya anak-anak karena ada waktu yang ingin fokus keluarga”(08/11/2023).

Berbincang Seru dengan Calon Ibu Dewan yang Memiliki Kesibukan sebagai Guru



Penulis: Sulistina, Salwa
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan, Dhe Liana Futri

Sukabumi, Suara Perempuan - Ibu Rena Nurriwayanti merupakan calon anggota Partai PKS kota Sukabumi di Dapil Satu daerah Cikole dan Citamiang Kota Sukabumi.

Menjadi seseorang yang dapat bermanfaat bagi orang lain adalah keinginan yang pasti di miliki oleh setiap orang, tetapi terkadang banyak orang yang belum tahu dimana wadah yang pas untuk menyalurkan ide-idenya dan kebijakan-kebijakannya sehingga kita bisa menjadi seorang perempuan yang dapat bermanfaat untuk masyarakat. Hal ini  merupakan alasan  sekaligus motivasi yang dipilih oleh Ibu Rena Nurriwayanti untuk mencalonkan dirinya menjadi seorang anggota dewan perempuan dari partai Keadilan sejahtera (PKS).

Satu persoalan pandangan yang sangat menarik mengenai "perempuan tidak harus pendidikan tinggi-tinggi karena pada akhirnya akan kembali ke kasur, dapur, dan sumur" menjadi salah satu pertanyaan yang kami tanyakan pada ibu  Rena nurriwayanti (08/11/2023).

Menurut pendapat Ibu Rena Nurriwayanti, pandangan ini merupakan pandangan yang salah walaupun pada kenyataannya benar pitrahnya seorang perempuan itu di rumah, tetapi pada zaman sekarang seorang perempuan yang cerdas itu tidak bisa hanya berdiam di rumah saja, karena mereka butuh ruang untuk mengekspresikan kecerdasannya. Sebenarnya seseorang perempuan yang berpendidikan tinggi itu akan memiliki pola asuh yang berbeda terhadap anak, manajemen keluarga dan pengaturan keuangan walaupun tidak di luar rumah, Ungkap Ibu Rena Nurriwayanti (08/11/2023).

“Memilih seorang perempuan untuk menjadi anggota dewan adalah hal yang sangat baik untuk membantu perempuan merealisasikan kecerdasannya. Perempuan itu lebih peka dan lebih bisa memahami perasaan perempuan terutama seorang ibu dan seorang perempuan zaman sekarang sudah setara dengan laki-laki”. #Renanurriwayanti

Perempuan Berpendidikan itu Penting!

                         

Penulis: Sulistina, Salwa
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan, Dhe Liana Futri

Sukabumi, Suara Perempuan - Ibu Hafsyah Zahara merupakan calon anggota Partai PKS kota Sukabumi di Dapil empat terdiri sembilan kecamatan Cisaat, Kadudampit, Sukaraja, Sukalarang, Kebon Pedes, Cireunghas, Gunung Guruh dan Geger Bitung.

Pertama Ibu Hafsyah Zahara mengatakan bahwa alasan menyalonkan sebagai anggota dewan yaitu adanya tuntutan dari partai untuk memenuhi kuota perempuan 30% dan diantara 18 partai hanya PKS yang memenuhi keterwakilan perempuan di semua dapil minimal 30%. Dari dapil beliau sendiri ada 10 kursi yang akan diperebutkan, dari PKS menyalonkan 3 dari perempuan dan 7 dari laki-laki. Jadi 30% nya dari perempuan (14/11/2023).

Menurut Ibu Hafsyah Zahara sekarang itu dari DPRD kabupaten sendiri tingkat keterwakilan perempuan masih ada di angka 16% bisa jadi turun atau bisa jadi harapannya naik. Jadi, ada yang menyuarakan hak-hak Perempuan. Karena, di ranah perlindungan perempuan dan anak yang menyuarakan itu lebih dapat dari Perempuan itu sendiri. Dan alasan kedua, beliau mengatakan bahwa adanya daya tarik tersendiri untuk terjun keranah politik praktis sudah belajar tentang bahwa untuk mencapai dari perbaikan diri, perbaikan Masyarakat, dan harus masuk keranah perbaikan negeri. Jadi harus ada perempuan-perempuan yang terjun ke dunia politik (14/11/2023). 

Motivasi yang tertanam dalam diri Ibu Hafsyah Zahara yaitu ingin menyuarakan hak-hak perempuan dan perlindungan pada anak. Dan kebetulan beliau merupakan lulusan dari bidang kesehatan dan ingin menjadi keterwakilan dari tenaga kesehatan yang nantinya dapat diperjuangkan. Oleh sebab itu, harus di ingat bahwa politik itu sama dengan bagaimana kita meraih kekuasaan. Dan kekuasaan itu harus jatuh kepada orang-orang baik. Jangan beranggapan bahwa dunia politik itu tabu untuk dimasuki oleh perempuan. Karena sekarang perempuan banyak yang sudah masuk ke ranah tersebut dari berbagai macam profesi. Walaupun isu gender sekarang semakin ramai diperbincangkan. Beliau sendiri tidak suka di deskriditkan caleg muda, caleg perempuan lah dan itu kesannya seperti caleg pelengkap.

Menurut Ibu Hafsyah Zahara pada saat terjun kelapangan tentunya terdapat adanya kendala. Dari beliau pribadi, tidak terdapat kendala karena beliau mendapat dukungan dan dorongan dari suami dan ikut serta dalam kegiatannya. Pada saat terjun di Masyarakat, ada segmen-segmen tertentu contohnya seperti masuk kekalangan bapak-bapak yang masih ada rasa gendernya dan berpegang teguh untuk lebih memilih calonnya harus laki-laki. Tetapi, dari kalangan ibu-ibu justru lebih semangat, loyal, dan juga memiliki sisi emosionalnya. Dan penerimaannya juga lebih bagus ketika caleg Perempuan masuk pada kalangan perempuan. Jadi, kendalanya pada saat pemilihan gender tertentu untuk masuk kekalangan statement bapak-bapak. Tapi pada kalangan pemuda biasanya lebih welcome pada semuanya baik perempuan maupun laki-laki dan yang paling penting menurut mereka adalah yang nantinya bisa masuk ke dunia mereka dan bisa mengikuti trend mereka.

Menjadi calon anggota dewan tentu bukan hal yang mudah terutama untuk seorang perempuan, banyak hal yang harus dilewati. Begitupun yang dapat dirasakan oleh Ibu Hafsyah Zahara. Beliau merupakan seorang ibu rumah tangga sekaligus seorang ibu, tetapi beliau mampu membagi waktu dan dapat mengimbanginya antara pekerjaan dan kewajibannya sebagai seorang istri. Dan menjadi seorang calon dewan tentu tidak dijadikan penghalang atau kendala untuk terus berkarir dan berkarya. Ada anggapan dari beberapa orang mengenai “kenapa sih seorang perempuan mencalonkan diri?”. Beliau menanggapi hal tersebut yaitu dengan cara melihat dari pandangan tersendiri juga dari keadaan kalangan masyarakat sekitar bahwa memang tidak menolak atau diucapkan secara langsung. Justru sebelum terjun ke masyarakat seharusnya sebagai calon itu harus bisa membaca karakter setempat. Beliau itu kebetulan terjun pada kalangan masyarakat orang Sunda. Tipe orang Sunda yaitu mempunyai sifat tidak enak hati. Bisa saja di depan bilangnya ingin memilih tetapi bisa jadi di belakang meraka akan memilih siapapun calon yang lainnya. 

Pendapat Ibu Hafsyah Zahara mengenai ungkapan tentang “untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya kembali ke kasur, dapur, sumur”. Hal ini tentu menjadi perdebatan yang tidak akan pernah berakhir diperbincangkan. Beliau mengatakan bahwa ketika kita terjun pada dunia politik, jangan banyak mau dimaklumi sebagai perempuan. Jadi, kita sebagai perempuan harus bisa menunjukkan komitmen, kompetensi, dan skill kita. Dan jangan hanya ingin dimaklumi dalam segala hal tetapi kita harus meningkatkan kapasitas diri. Meskipun kita sebagai perempuan yang selalu diam di rumah tetapi kita masih bisa terus berkarir dengan cara mengeksplor diri. Seperti mengikuti webinar di dalam maupun di luar negeri dengan akses yang mudah kita cari dan didapatkan meskipun ikut serta secara online.

“Mudah-mudahan keterwakilan perempuan di 2024 akan meningkat tidak hanya 16% tetapi bisa mencapai 30% dan mudah-mudahan ada perempuan yang bisa duduk di parlemen untuk menunjukkan komitmen, kompetensi, dan skill yang mengempuni dan untuk bisa berjuang bersama dalam ranah perlindungan dan hak-hak perempuan dan anak”. #Hafsyah Zahara

Menjadi Ibu Rumah Tangga Bukan Batasan untuk Perempuan dalam Meningkatkan Pengalaman di Dunia Politik



Penulis: Sulistina, Salwa
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan, Dhe Liana Futri

Sukabumi, Suara Perempuan - Ibu Siti Hikmah merupakan calon anggota Partai PKS kota Sukabumi di Dapil tiga Kecamatan Gunung Puyuh Warudoyong.

Motivasi yang ibu Siti Hikmah pegang dalam mencalonkan diri menjadi calon anggota dewan memenuhi kuota 30% perempuan dan juga memenuhi  perwakilan perempuan di parlemen wakil rakyat dari perempuan karena baru 7 orang dari 35 kursi jadi dari 30% itu masih jauh dan membutuhkan banyak peran perempuan lagi karena, menurut Ibu Siti Hikmah peran perempuan dalam keanggotaan dewan sangatlah penting (07/11/2023).

Kemudian narasumber menjelaskan kendala-kendala dalam memasuki ranah dewan ini dari sudut pandangan sebagai Ibu rumah tangga, salah satu kendalanya adalah "harus mendapatkan izin dari suami terlebih dahulu karena saya pribadi sudah berumah tangga dan Ada sebuah surat pernyataan yang dimana suami harus menandatangani surat tersebut" (07/11/2023).

Adapun kendala lainnya yaitu harus mempunyai modal untuk dikenal masyarakat salah satunya dengan menjadi aktif di masyarakat. Penanya menanyakan bagaimana cara narasumber mengelola waktu antara menjadi Ibu rumah tangga dan menjadi anggota dewan "Alhamdulillah untuk saat ini anak-anak saya selalu mengikuti kegiatan yang saya ikuti dengan demikian mereka bisa mengerti bahwa Ibunya memiliki kesibukan selain di rumah tangga (07/11/2023).

Pendapat mengenai untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya juga balik dapat kasur."Menurutnya pendidikan adalah suatu hal yang penting baik itu sebagai Ibu rumah tangga ataupun menjadi karir di luar sana" (07/11/2023).

Menjadi anggota dewan adalah menjadi salah satu anggota publik yang mana akan bertemu dengan banyak orang. Bagaimana jika suatu hari bertemu dengan masyarakat perempuan yang mana akan bertanya banyak hal, namun jika kapasitas ilmu dan pengalamannya tidak dimiliki maka itu akan menjadi sebuah kesulitan.

"Narasumber berkata generasi milenial itu adalah salah satu  yang dibutuhkan suaranya untuk pemilihan umum jadi jangan sampai teman-teman yang punya hak suara untuk memilih calon pemimpin 5 tahun kedepan itu tidak mempergunakan hak pilihnya jadi ketika hari H pencoblosan diusakahan untuk datang ke TPS karena suara dari generasi milenial itu sangat dibutuhkan manfaatkan pemilihan pemimpin untuk 5 tahun kedepan" (07/11/2023).


Kamis, 23 November 2023

Berbincang bersama Calon Anggota Dewan yang Baru saja Lulus Kuliah




Penulis: Sulistina, Salwa
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan, Dhe Liana Futri

Sukabumi, Suara Perempuan - Lalitya Vinanggie merupakan calon anggota Partai Demokrat kota Sukabumi di Dapil satu Kecamantan Cikole dan Citamiang.

Kurangnya fokus mengenai pemberdayaan perempuan bahkan pelecehan terhadap anak-anak kerap terjadi di beberapa tempat yang tentu saja tidak di publish di media sosial, menjadi salah satu alasan kuat untuk menjadi calon anggota dewan Partai Demokrat ungkap ka Lalitya. Berdasarkan alasan itu ka Lalitya Vinanggie ingin semua orang membuka mata akan hal tersebut dan ingin menjadikan setidaknya Sukabumi itu tidak terkenal dengan hal-hal yang berbau pelecehan melainkan terkenal akan hal-hal yang positif. 


ka Lalitya Vinanggie juga mengungkapkan pendapatnya mengenai perkataan bahwa “Perempuan itu tidak harus sekolah tinggi-tinggi karena ujung nya  kembali lagi ke Kasur, Dapur, dan Sumur” (04/11/2023).

Menurut ka Lalitya ini merupakan hal yang tidak adil karena zaman sekarang kesetaraan gender itu bisa dilakukan, seorang perempuan tentunya bisa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh laki-laki, perempuan bisa ikut terjun langsung bersama laki-laki. Keinginan seorang perempuan untuk setara dengan laki-laki itu bukan semata-mata ingin selangkah lebih depan dari laki-laki, tetapi setidaknya perempuan itu ingin memiliki hak-hak yang ada pada laki-laki sehingga perempuan bisa ikut serta membantu di lapangan. Perempuan tidak ingin hanya memberikan motivasi saja tapi juga ingin ikut berkontribusi menyalurkan prestasi. 

Menjadi seorang anggota dewan tentunya bukanlah hal yang mudah terutama bagi perempuan, beberapa rintangan harus dengan percaya diri dapat dilewati. perempuan itu identik dengan cantik dan memiliki tubuh yang bagus tetapi orang-orang tidak melihat bahwa sebenarnya perempuan juga memiliki mindset yang baik dan  kepribadian yang baik, tidak hanya wajah saja yang dilihat tapi harus melihat beserta hatinya, beberapa hambatan pasti ada dalam setiap perjalanan menuju sukses, seperti halnya hambatan  yang dialami oleh ka Lalitya. Pertama, banyaknya yang merendahkan sepaerti “buat apa perempuan menjadi pemimpin? padahal perempuan itu selalu mengedepankan perasaan daripada logikanya” namun pada kenyataannya perempuan bisa bergerak atas perasannya sendiri karena melihat banyaknya hal-hal yang terjadi dan anak-anak malah menjadi korban dari masalah tersebut. Kedua, hambatan yang kedua ini merupakan hal yang pasti setiap calon anggota Dewan merasakan nya yaitu, persaingan karena pada zaman sekarang sudah mulai banyak permpuan-perempuan muda yang mengerti mengenai politik bahkan lebih mahir diluaran sana.

Pendapat dari beberapa orang bahwasannya “ketika perempuan cantik maka dia berkuasa” menjadi salah satu pertanyaan yang sempat tim Redaksi kami pertanyakan kepada ka Lalitya. menurut ka Lalitya hal ini bisa dibilang realita karena melihat ada beberapa yang demikian, tetapi apabila melihat dari konteks kesetraan gendernya apabila laki-laki hanya melihat cantiknya dari seorang perempuan maka perempuan pun akan melihat segi materi dari laki-laki tersebut, diantara keduanya pasti memililiki timbal balik.

“Lakukan apapun yang harus kita lakukan, jangan dengarkan komentar negatif orang-orang diluar sana, karena sebenarnya perempuan itu bukanlah Aib dan bukan Dosa. Jadi kita sebagai perempuan berhak untuk menunjukkan diri atas keterampilan kita”. #LalityaVinanggie