Kamis, 23 November 2023

Berbincang bersama Calon Anggota Dewan yang Baru saja Lulus Kuliah




Penulis: Sulistina, Salwa
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan, Dhe Liana Futri

Sukabumi, Suara Perempuan - Lalitya Vinanggie merupakan calon anggota Partai Demokrat kota Sukabumi di Dapil satu Kecamantan Cikole dan Citamiang.

Kurangnya fokus mengenai pemberdayaan perempuan bahkan pelecehan terhadap anak-anak kerap terjadi di beberapa tempat yang tentu saja tidak di publish di media sosial, menjadi salah satu alasan kuat untuk menjadi calon anggota dewan Partai Demokrat ungkap ka Lalitya. Berdasarkan alasan itu ka Lalitya Vinanggie ingin semua orang membuka mata akan hal tersebut dan ingin menjadikan setidaknya Sukabumi itu tidak terkenal dengan hal-hal yang berbau pelecehan melainkan terkenal akan hal-hal yang positif. 


ka Lalitya Vinanggie juga mengungkapkan pendapatnya mengenai perkataan bahwa “Perempuan itu tidak harus sekolah tinggi-tinggi karena ujung nya  kembali lagi ke Kasur, Dapur, dan Sumur” (04/11/2023).

Menurut ka Lalitya ini merupakan hal yang tidak adil karena zaman sekarang kesetaraan gender itu bisa dilakukan, seorang perempuan tentunya bisa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh laki-laki, perempuan bisa ikut terjun langsung bersama laki-laki. Keinginan seorang perempuan untuk setara dengan laki-laki itu bukan semata-mata ingin selangkah lebih depan dari laki-laki, tetapi setidaknya perempuan itu ingin memiliki hak-hak yang ada pada laki-laki sehingga perempuan bisa ikut serta membantu di lapangan. Perempuan tidak ingin hanya memberikan motivasi saja tapi juga ingin ikut berkontribusi menyalurkan prestasi. 

Menjadi seorang anggota dewan tentunya bukanlah hal yang mudah terutama bagi perempuan, beberapa rintangan harus dengan percaya diri dapat dilewati. perempuan itu identik dengan cantik dan memiliki tubuh yang bagus tetapi orang-orang tidak melihat bahwa sebenarnya perempuan juga memiliki mindset yang baik dan  kepribadian yang baik, tidak hanya wajah saja yang dilihat tapi harus melihat beserta hatinya, beberapa hambatan pasti ada dalam setiap perjalanan menuju sukses, seperti halnya hambatan  yang dialami oleh ka Lalitya. Pertama, banyaknya yang merendahkan sepaerti “buat apa perempuan menjadi pemimpin? padahal perempuan itu selalu mengedepankan perasaan daripada logikanya” namun pada kenyataannya perempuan bisa bergerak atas perasannya sendiri karena melihat banyaknya hal-hal yang terjadi dan anak-anak malah menjadi korban dari masalah tersebut. Kedua, hambatan yang kedua ini merupakan hal yang pasti setiap calon anggota Dewan merasakan nya yaitu, persaingan karena pada zaman sekarang sudah mulai banyak permpuan-perempuan muda yang mengerti mengenai politik bahkan lebih mahir diluaran sana.

Pendapat dari beberapa orang bahwasannya “ketika perempuan cantik maka dia berkuasa” menjadi salah satu pertanyaan yang sempat tim Redaksi kami pertanyakan kepada ka Lalitya. menurut ka Lalitya hal ini bisa dibilang realita karena melihat ada beberapa yang demikian, tetapi apabila melihat dari konteks kesetraan gendernya apabila laki-laki hanya melihat cantiknya dari seorang perempuan maka perempuan pun akan melihat segi materi dari laki-laki tersebut, diantara keduanya pasti memililiki timbal balik.

“Lakukan apapun yang harus kita lakukan, jangan dengarkan komentar negatif orang-orang diluar sana, karena sebenarnya perempuan itu bukanlah Aib dan bukan Dosa. Jadi kita sebagai perempuan berhak untuk menunjukkan diri atas keterampilan kita”. #LalityaVinanggie

   


1 komentar:

  1. setelah membaca ini, sangat berarti bagi saya dan sangat menarik untuk di baca

    BalasHapus