Penulis: Zulfah Mubarokah
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan
Sukabumi, Suara Perempuan- Nama lengkap adalah Tsamara Amany Alatas. Perempuan yang lahir di Jakarta pada 4 Juni 1996 ini merupakan anak tunggal dari pasangan Muhammad Abdurachman Alatas dan Nabila Zain Ba'abud. Ayahnya adalah seorang pengusaha pertambangan. Dia sudah berstatus sebagai istri, suaminya bernama Ismeth Alatas.
Perempuan keturunan Arab tersebut memiliki prestasi yang luar biasa ketika kuliah. Hanya dalam kurun waktu 3,5 tahun ia menyelesaikan kuliahnya dan meraih predikat cumlaude dengan IPK
3,86. Ia mengambil jurusan Ilmu Komunikasi
(S-1) di Universitas
Pramadina. Kemudian, melanjutkan
pendidikan S-2 di New York
University dengan jurusan studi master
bidang Public Policy & Media Studies.
Saat
masih berkuliah
di Universitas Paramadina, Tsamara sempat menjadi staf magang Gubernur DKI pada
Januari-April 2016 untuk membantu Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
Pada
tahun 2016, dan masih di tahun
yang sama, Tsamara mampu mendirikan
sebuah organisasi Perempuan
Politik yang mana hanya berbekal
pengalaman tersebut, kemudian diberi
jabatan sebagai Ketua DPP bidang eksternal PSI sejak 2017.
Tahun
2019, Tsamara menjadi jubir (juru bicara) pada
pasangan calon presiden dan wakil
presiden Joko Widodo & Ma'ruf
Amin pada Pemilu 2019. Pengalaman Tsamara
yang pernah menjadi jubir pasangan Joko Widodo dan
KH. Maruf Amin mejadikan Dia mulai
dikenal oleh banyak orang. Dan pada tahun yang sama,
Tsamara mendaftrakan diri dan maju
sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Jakarta Selatan, Jakarta
Pusat dan luar negeri.
Melalui
akun Twitter Tsamara Amany Alatas , dia mengumumkan keputusannya untuk keluar
dari PSI, melepas jabatannya sebagai pengurus dan kader Partai Solidaritas
Indonesia.
"Per hari tanggal 18 April 2022, saya resmi mengundurkan diri sebagai pengurus dan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Terima kasih dari hati terdalam saya atas berbagai kesempatan yang sudah diberikan," tulis Tsamara dalam Twitter.
Alasannya adalah karena Tsamara ingin mengeksplorasi potensinya tanpa naungan partai politik. Tsamarapun ingin fokus menyuarakan isu Perempuan lebih banyak lagi dalam organisasi yang didirikan bersama dua rekannya, Nita dan Gaby.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar