Jumat, 24 November 2023

Perempuan Berpendidikan itu Penting!

                         

Penulis: Sulistina, Salwa
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan, Dhe Liana Futri

Sukabumi, Suara Perempuan - Ibu Hafsyah Zahara merupakan calon anggota Partai PKS kota Sukabumi di Dapil empat terdiri sembilan kecamatan Cisaat, Kadudampit, Sukaraja, Sukalarang, Kebon Pedes, Cireunghas, Gunung Guruh dan Geger Bitung.

Pertama Ibu Hafsyah Zahara mengatakan bahwa alasan menyalonkan sebagai anggota dewan yaitu adanya tuntutan dari partai untuk memenuhi kuota perempuan 30% dan diantara 18 partai hanya PKS yang memenuhi keterwakilan perempuan di semua dapil minimal 30%. Dari dapil beliau sendiri ada 10 kursi yang akan diperebutkan, dari PKS menyalonkan 3 dari perempuan dan 7 dari laki-laki. Jadi 30% nya dari perempuan (14/11/2023).

Menurut Ibu Hafsyah Zahara sekarang itu dari DPRD kabupaten sendiri tingkat keterwakilan perempuan masih ada di angka 16% bisa jadi turun atau bisa jadi harapannya naik. Jadi, ada yang menyuarakan hak-hak Perempuan. Karena, di ranah perlindungan perempuan dan anak yang menyuarakan itu lebih dapat dari Perempuan itu sendiri. Dan alasan kedua, beliau mengatakan bahwa adanya daya tarik tersendiri untuk terjun keranah politik praktis sudah belajar tentang bahwa untuk mencapai dari perbaikan diri, perbaikan Masyarakat, dan harus masuk keranah perbaikan negeri. Jadi harus ada perempuan-perempuan yang terjun ke dunia politik (14/11/2023). 

Motivasi yang tertanam dalam diri Ibu Hafsyah Zahara yaitu ingin menyuarakan hak-hak perempuan dan perlindungan pada anak. Dan kebetulan beliau merupakan lulusan dari bidang kesehatan dan ingin menjadi keterwakilan dari tenaga kesehatan yang nantinya dapat diperjuangkan. Oleh sebab itu, harus di ingat bahwa politik itu sama dengan bagaimana kita meraih kekuasaan. Dan kekuasaan itu harus jatuh kepada orang-orang baik. Jangan beranggapan bahwa dunia politik itu tabu untuk dimasuki oleh perempuan. Karena sekarang perempuan banyak yang sudah masuk ke ranah tersebut dari berbagai macam profesi. Walaupun isu gender sekarang semakin ramai diperbincangkan. Beliau sendiri tidak suka di deskriditkan caleg muda, caleg perempuan lah dan itu kesannya seperti caleg pelengkap.

Menurut Ibu Hafsyah Zahara pada saat terjun kelapangan tentunya terdapat adanya kendala. Dari beliau pribadi, tidak terdapat kendala karena beliau mendapat dukungan dan dorongan dari suami dan ikut serta dalam kegiatannya. Pada saat terjun di Masyarakat, ada segmen-segmen tertentu contohnya seperti masuk kekalangan bapak-bapak yang masih ada rasa gendernya dan berpegang teguh untuk lebih memilih calonnya harus laki-laki. Tetapi, dari kalangan ibu-ibu justru lebih semangat, loyal, dan juga memiliki sisi emosionalnya. Dan penerimaannya juga lebih bagus ketika caleg Perempuan masuk pada kalangan perempuan. Jadi, kendalanya pada saat pemilihan gender tertentu untuk masuk kekalangan statement bapak-bapak. Tapi pada kalangan pemuda biasanya lebih welcome pada semuanya baik perempuan maupun laki-laki dan yang paling penting menurut mereka adalah yang nantinya bisa masuk ke dunia mereka dan bisa mengikuti trend mereka.

Menjadi calon anggota dewan tentu bukan hal yang mudah terutama untuk seorang perempuan, banyak hal yang harus dilewati. Begitupun yang dapat dirasakan oleh Ibu Hafsyah Zahara. Beliau merupakan seorang ibu rumah tangga sekaligus seorang ibu, tetapi beliau mampu membagi waktu dan dapat mengimbanginya antara pekerjaan dan kewajibannya sebagai seorang istri. Dan menjadi seorang calon dewan tentu tidak dijadikan penghalang atau kendala untuk terus berkarir dan berkarya. Ada anggapan dari beberapa orang mengenai “kenapa sih seorang perempuan mencalonkan diri?”. Beliau menanggapi hal tersebut yaitu dengan cara melihat dari pandangan tersendiri juga dari keadaan kalangan masyarakat sekitar bahwa memang tidak menolak atau diucapkan secara langsung. Justru sebelum terjun ke masyarakat seharusnya sebagai calon itu harus bisa membaca karakter setempat. Beliau itu kebetulan terjun pada kalangan masyarakat orang Sunda. Tipe orang Sunda yaitu mempunyai sifat tidak enak hati. Bisa saja di depan bilangnya ingin memilih tetapi bisa jadi di belakang meraka akan memilih siapapun calon yang lainnya. 

Pendapat Ibu Hafsyah Zahara mengenai ungkapan tentang “untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya kembali ke kasur, dapur, sumur”. Hal ini tentu menjadi perdebatan yang tidak akan pernah berakhir diperbincangkan. Beliau mengatakan bahwa ketika kita terjun pada dunia politik, jangan banyak mau dimaklumi sebagai perempuan. Jadi, kita sebagai perempuan harus bisa menunjukkan komitmen, kompetensi, dan skill kita. Dan jangan hanya ingin dimaklumi dalam segala hal tetapi kita harus meningkatkan kapasitas diri. Meskipun kita sebagai perempuan yang selalu diam di rumah tetapi kita masih bisa terus berkarir dengan cara mengeksplor diri. Seperti mengikuti webinar di dalam maupun di luar negeri dengan akses yang mudah kita cari dan didapatkan meskipun ikut serta secara online.

“Mudah-mudahan keterwakilan perempuan di 2024 akan meningkat tidak hanya 16% tetapi bisa mencapai 30% dan mudah-mudahan ada perempuan yang bisa duduk di parlemen untuk menunjukkan komitmen, kompetensi, dan skill yang mengempuni dan untuk bisa berjuang bersama dalam ranah perlindungan dan hak-hak perempuan dan anak”. #Hafsyah Zahara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar