Sukabumi,
Suara Perempuan - Ibu Hafsyah Zahara merupakan
calon anggota Partai PKS kota Sukabumi di Dapil empat terdiri sembilan kecamatan
Cisaat, Kadudampit, Sukaraja, Sukalarang, Kebon Pedes, Cireunghas, Gunung Guruh
dan Geger Bitung.
Pertama Ibu
Hafsyah Zahara mengatakan bahwa alasan menyalonkan sebagai anggota dewan
yaitu adanya tuntutan dari partai untuk memenuhi kuota perempuan 30% dan
diantara 18 partai hanya PKS yang memenuhi keterwakilan perempuan di semua
dapil minimal 30%. Dari dapil beliau sendiri ada 10 kursi yang akan
diperebutkan, dari PKS menyalonkan 3 dari perempuan dan 7 dari laki-laki. Jadi
30% nya dari perempuan (14/11/2023).
Menurut Ibu
Hafsyah Zahara sekarang itu dari DPRD kabupaten sendiri tingkat
keterwakilan perempuan masih ada di angka 16% bisa jadi turun atau bisa jadi
harapannya naik. Jadi, ada yang menyuarakan hak-hak Perempuan. Karena, di ranah
perlindungan perempuan dan anak yang menyuarakan itu lebih dapat dari Perempuan
itu sendiri. Dan alasan kedua, beliau mengatakan bahwa adanya daya tarik
tersendiri untuk terjun keranah politik praktis sudah belajar tentang bahwa
untuk mencapai dari perbaikan diri, perbaikan Masyarakat, dan harus masuk
keranah perbaikan negeri. Jadi harus ada perempuan-perempuan yang terjun ke
dunia politik (14/11/2023).
Motivasi yang
tertanam dalam diri Ibu Hafsyah Zahara yaitu ingin
menyuarakan hak-hak perempuan dan perlindungan pada anak. Dan kebetulan beliau
merupakan lulusan dari bidang kesehatan dan ingin menjadi keterwakilan dari
tenaga kesehatan yang nantinya dapat diperjuangkan. Oleh sebab itu, harus di
ingat bahwa politik itu sama dengan bagaimana kita meraih kekuasaan. Dan kekuasaan
itu harus jatuh kepada orang-orang baik. Jangan beranggapan bahwa dunia politik
itu tabu untuk dimasuki oleh perempuan. Karena sekarang perempuan banyak yang
sudah masuk ke ranah tersebut dari berbagai macam profesi. Walaupun isu gender
sekarang semakin ramai diperbincangkan. Beliau sendiri tidak suka di
deskriditkan caleg muda, caleg perempuan lah dan itu kesannya seperti caleg
pelengkap.
Menurut Ibu
Hafsyah Zahara pada saat terjun kelapangan tentunya terdapat adanya
kendala. Dari beliau pribadi, tidak terdapat kendala karena beliau mendapat
dukungan dan dorongan dari suami dan ikut serta dalam kegiatannya. Pada saat
terjun di Masyarakat, ada segmen-segmen tertentu contohnya seperti masuk
kekalangan bapak-bapak yang masih ada rasa gendernya dan berpegang teguh untuk
lebih memilih calonnya harus laki-laki. Tetapi, dari kalangan ibu-ibu justru
lebih semangat, loyal, dan juga memiliki sisi emosionalnya. Dan penerimaannya
juga lebih bagus ketika caleg Perempuan masuk pada kalangan perempuan. Jadi, kendalanya
pada saat pemilihan gender tertentu untuk masuk kekalangan statement
bapak-bapak. Tapi pada kalangan pemuda biasanya lebih welcome pada semuanya
baik perempuan maupun laki-laki dan yang paling penting menurut mereka adalah
yang nantinya bisa masuk ke dunia mereka dan bisa mengikuti trend mereka.
Menjadi calon
anggota dewan tentu bukan hal yang mudah terutama untuk seorang perempuan,
banyak hal yang harus dilewati. Begitupun yang dapat dirasakan oleh Ibu Hafsyah
Zahara. Beliau merupakan seorang ibu rumah tangga sekaligus seorang ibu, tetapi
beliau mampu membagi waktu dan dapat mengimbanginya antara pekerjaan dan
kewajibannya sebagai seorang istri. Dan menjadi seorang calon dewan tentu tidak
dijadikan penghalang atau kendala untuk terus berkarir dan berkarya. Ada
anggapan dari beberapa orang mengenai “kenapa sih seorang perempuan mencalonkan
diri?”. Beliau menanggapi hal tersebut yaitu dengan cara melihat dari pandangan
tersendiri juga dari keadaan kalangan masyarakat sekitar bahwa memang tidak
menolak atau diucapkan secara langsung. Justru sebelum terjun ke masyarakat
seharusnya sebagai calon itu harus bisa membaca karakter setempat. Beliau itu
kebetulan terjun pada kalangan masyarakat orang Sunda. Tipe orang Sunda yaitu
mempunyai sifat tidak enak hati. Bisa saja di depan bilangnya ingin memilih
tetapi bisa jadi di belakang meraka akan memilih siapapun calon yang
lainnya.
Pendapat Ibu Hafsyah Zahara mengenai ungkapan tentang “untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya kembali ke kasur, dapur, sumur”. Hal ini tentu menjadi perdebatan yang tidak akan pernah berakhir diperbincangkan. Beliau mengatakan bahwa ketika kita terjun pada dunia politik, jangan banyak mau dimaklumi sebagai perempuan. Jadi, kita sebagai perempuan harus bisa menunjukkan komitmen, kompetensi, dan skill kita. Dan jangan hanya ingin dimaklumi dalam segala hal tetapi kita harus meningkatkan kapasitas diri. Meskipun kita sebagai perempuan yang selalu diam di rumah tetapi kita masih bisa terus berkarir dengan cara mengeksplor diri. Seperti mengikuti webinar di dalam maupun di luar negeri dengan akses yang mudah kita cari dan didapatkan meskipun ikut serta secara online.
“Mudah-mudahan keterwakilan perempuan di 2024 akan meningkat tidak hanya 16% tetapi bisa mencapai 30% dan mudah-mudahan ada perempuan yang bisa duduk di parlemen untuk menunjukkan komitmen, kompetensi, dan skill yang mengempuni dan untuk bisa berjuang bersama dalam ranah perlindungan dan hak-hak perempuan dan anak”. #Hafsyah Zahara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar