Kamis, 15 Februari 2024

Sulitnya Menjadi Seorang Perempuan

(Foto: Pinterest)

Penulis: Sulistina
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan

Sukabumi, Suara Perempuan- Tahukah kalian Sahabat Perempuan? Menjadi perempuan itu sulit, serba salah, karena perempuan itu dituntut untuk sempurna. Perempuan tiiydak bisa bergerak dengan bebas, selalu memiliki kesulitan tentang dirinya, perempuan hari ini, perempuan harus begitu dan masih banyak tuntutan yang lainnya.

"perempuan itu harus baik, berbicara dengan tutur kata yang lembut dan sopan", “Tidak usah sekolah tinggi-tinggi nanti ujung-ujungnya juga di rumah ","Jangan di atas laki-laki nanti buat minder laki-laki terus susah dapat jodoh", "Masa perempuan tidak bisa masak" Kata - kata ini yang membuat perempuan merasa hidupnya di kekang.

Padahal perempuan berkeinginan sekolah yang tinggi untuk masa depannya nanti, yang akan menjadi seorang ibu sekaligus guru untuk anaknya, dan menurut Psikologi ibu menurunkan kecerdasan dan cara berpikir kepada anaknya. Perempuan berkarier selalu beranggapan ingin di atas laki-laki dan laki-laki takut merasa bersaing, tetapi ada juga yang mengatakan, perempuan di rumah saja menjadi ibu rumah tangga selalu dikiranya cuma jadi pengangguran. "Pakai baju yang feminim kamu itu perempuan", jika perempuan memakai baju yang terbuka dianggap anak nakal. perempuan, bebas mengekspresikan, apa yang dia suka. Perempuan jerawat di bilang tidak bisa merawat diri, perempuan yang belum menikah dibilang tidak laku, terlalu pemilih. Tetapi ketika sudah menikah ditanya Kapan punya anak?", katanya belum 100% menjadi perempuan kalo belum pernah merasakan yang namanya melahirkan.

Apalagi ditambah dengan para laki-laki yang selalu memandang perempuan dari fisik dengan standar kecantikan yang tidak masuk akal. Katanya perempuan itu harus putih, kulit mulus, badan langsing, rambut panjang lurus atau berbagai celoteh lainnya, perempuan bagaikan objek bagi laki-laki Kenyataannya, semua perempuan itu memiliki kecantikan masing-masing kecantikan bukan hanya dari fisik melainkan dari hati dan etika. dapat dijelaskan, bahwa perempuan harus dituntut berhasil semua bidang, bagus di dunia karier, rumah tangga, pendidikan, penampilan fisik, berperilaku baik, pintar masak, harus bisa mandiri.

Perempuan bukan objek, perempuan juga ingin bebas melakukan apa yang dia mau. "Susah jadi perempuan, apalagi sekarang ini masih banyak masyarakat yang berpikiran zaman dahulu". Perempuan bisa setara dengan laki-laki Jadi setop menuntut perempuan karena pada dasarnya perempuan juga makhluk yang tidak sempurna, perempuan makhluk yang rapuh, perempuan sejatinya hanya ingin dihargai. Dan untuk para perempuan jadilah apa yang kalian inginkan dan jangan takut untuk memulai apapun yang kalian suka.

Tak jarang, jika kita melihat sosial media masih banyak laki-laki yang menilai kehormatan perempuan hanya sekedar dari sebuah ‘keperawanan.’ Banyak dari laki-laki menjadikan keperawanan sebagai salah satu syarat agar perempuan bisa dianggap layak dinikahi. Dilansir dari BBC, seorang hakim perempuan mengusulkan adanya tes keperawanan untuk menekan angka perceraian, alasannya agar rumah tangga sekarang mutlak suci, bersih, dan tidak bernoda. Bukti-bukti tersebut merupakan salah satu diskriminasi terhadap penghormatan perempuan, seakan masalah perceraian hanya disebabkan oleh selangkangan perempuan.

Tak hanya stereotip yang melekat pada perempuan, perjuangan emansipasi oleh perempuan berlanjut pada adanya kabar-kabar buruk. Belakangan ini wanita sering dijadikan objek seksualitas, misalnya pelecehan dilingkungan perguruan tinggi. Pelaku pelecehan sering mengambil kesempatan jika ada celah, di tempat umum, institusi pendidikan, bahkan di rumah sendiri. Dilansir dari justika.com, pada semester pertama di 2021 ini, sudah tercatat 2000 kasus yang menimpa perempuan dan anak. Selanjutnya, perkembangan ke belakang ini melompat hampir dua kali lipat yaitu berada di atas angka 3000 kasus.  Belum lama ini kita juga dihebohkan dengan kasus kekerasan seksual di lingkungan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Satu survei tahun 2019 terkait pelecehan seksual di ruang publik, Koalisi Ruang Publik Aman menemukan lingkungan sekolah dan kampus menduduki urutan ketiga lokasi terjadinya tindak kekerasan seksual (15%), jalanan (33%) dan transportasi umum (19%). Dikutip dari cnnindonesia.com, kepolisian menaikkan status kasus dugaan pelecehan mahasiswi Universitas Riau (Unri) oleh dosen ke tahap penyidikan. Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto mengatakan dalam kasus ini, penyidik telah memeriksa saksi-saksi dan pihak korban, termasuk terduga pelaku seorang dosen yang menjabat Dekan FISIP UNRI Syafri Harto. Hal tersebut adalah salah satu dari ribuan kasus yang terjadi di Indonesia.

Sering kali perempuan juga mendapat penghakiman atas pelecehan seksual atau kekerasan seksual yang mereka alami, “mungkin dia pakai baju yang mengundang,” “sudah besar harusnya bisa jaga diri, hasrat seksual tidak bisa dikontrol,” atau “katanya emansipasi, harusnya perempuan bisa melawan.” Meski tak banyak, tanggapan-tanggapan tersebut terkesan menyudutkan penyintas sehingga menimbulkan ketakutan bagi penyintas pelecehan atau kekerasan seksual untuk terbuka. Perempuan ditekan untuk menjaga dirinya, tetapi pelaku tidak ditekankan untuk menjaga nafsunya. Maka dari itu pendidikan seks sejak dini merupakan yang hal penting bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar