(Foto: theguardian.com)
Alice
Munro menulis dengan sangat sederhana, dengan mengangkat tema seputar masalah
rumah tangga, suami yang posesif, istri yang jatuh cinta pada pria lain,
kematian seorang kekasih di usia senja serta berbagai hal lain yang sangat
intens menghadirkan karakter-karakter kaum perempuan dengan sangat kuat di
dalamnya. Ketika Munro memenangi penganugerahan Nobel Sastra 2013 lalu (dengan
menyisihkan Haruki Murakami) orang-orang telah banyak mengulas tentang
bagaimana dia telah menulis banyak kasus-kasus kompleks yang menyeret para perempuan
sehingga dia disebut sebagai pejuang kaumnya.
Pengetahuan
Alice Munro yang luas tentang perempuan memberi kebebasan untuk menggambarkan
mereka dalam setiap ceritanya. Kadang seorang perempuan tua menjadi kesepian
setelah suaminya meninggal. Kadang ceritanya tentang seorang perempuan muda
yang mengunjungi suaminya di penjara, atau seorang gadis desa yang pemalu, atau
seorang tomboi yang sering disangka laki-laki. Alice Munro memberikan suara
kepada perempuan untuk menemukan tempatnya dalam pernikahan, kemandirian dalam
berkarir di luar rumah, dan dia juga menginginkan keadilan bahwa jika pria bisa
seenaknya berselingkuh maka perempuan juga bisa karena seringkali perempuan
terkengkang oleh pernikahan mereka sendiri.
Alice Munro sendiri mengaku meski sibuk dengan suami dan anak, ia selalu menyempatkan diri untuk menulis, dengan dalih tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan rasa bosannya. Dari sinilah Munro memasuki dunia penulisan profesional
Mengingat
latar belakang dan budaya di Ontario, maka Munro menyadari bahwa tulisannya sebagai
media pembebasan kaumnya. Dia ingin menggerakkan setiap pihak untuk menyadari bahwa
perempuan itu ada, hidup dan bernapas.
Alice Munro, ia dikabarkan pensiun dari dunia menulis pada usia 80 tahun. Tetapi, sosoknya telah mewakili negara Kanada untuk bersuara. Meskipun ia tidak mampu menulis satu novel, setiap cerita pendeknya memperlihatkan keutuhan layaknya sebuah novel, dengan tokoh-tokoh yang patut dipelajari dan ditelaah keberadaan mereka. Alice Munro telah menjadi suara universal bagi perempuan, dan karya-karyanya telah dipublikasikan secara luas sejak ia menjadi terkenal pada tahun 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar