Sabtu, 17 Februari 2024

Peraih Nobel Sastra Tahun 2018

 

(Foto: Wikipedia)

Penulis: Diva Saputra Ahmad Setiawan
Editor: Zulfah Mubarokah

Sukabumi, Suara Perempuan- Olga Nawoja Tokarczuk atau lebih dikenal Tokarczuk lahir pada tanggal 29 Januari 1962 di Sulechow Polandia.

Pada awalnya Tokarczuk ingin berkuliah di jurusan sastra karena ibunya seorang guru bahasa Polandia, namun karena sempat berkonflik dengan orang tua nya dia memutuskan untuk tidak mengambil sastra justru memilih psikologi.

Kedua orang tuanya adalah guru dan ayahnya sebagai pustakawan sekolah Olga Tokarczuk sering ke perpustakaan dan membaca apa pun yang dia dapatkan. kebiasaan ini membangunkan kecintaannya pada dunia literasi.

Tokarczuk berkuliah di jurusan Psikologi University of Warsaw selama kuliah, dia menjadi sukarelawan di sebuah rumah sakit untuk anak-anak yang memiliki masalah perilaku.

Tokarczuk mengganggap dirinya pengikut Carl Jung dan menggunakan psikologinya sebagai inspirasi dari karya tulisnya. mulai tahun 1998, dia tinggal di sebuah desa kecil dekat Rowa Ruda. Di sini dia juga mengurus penerbit miliknya, bernama Ruta.

Olga Tokarczuk diumumkan meraih Nobel Sastra 2018 pada tanggal 10 Oktober 2019 (terlambat satu tahun).

Laksmi Pamuntjak

 

(Foto: haibunda.com)

Penulis: Diva Saputra Ahmad Setiawan
Editor: Zulfah Mubarokah

Sukabumi, Suara Perempuan- Penulis berdarah Minangkabau, Sumatera Barat ini memiliki bakat menulis yang menurut dari kakeknya, Kasuma Sutan Pamuntjak.

Laksmi Pamuntjak memulai karier di dunia kepenulisan dengan menulis tentang kuliner pada 2001. tulisannya kala itu yakni "The Jakarta Good Food Guide 2001". Setelah itu ia mulai merambah ke tulisan fiksi.

Karya fiksi yang ditulis pertama yakni berbentuk cerpen dengan judul "There Are Tears and Things: Collected Poetry and Prose".

Kemampuan menulis Laksmi semakin hari semakin memukau. Pada 2012 ia menerbitkan novel berjudul "Amba" Novel tersebut berhasil mengantarkan dirinya untuk meraih penghargaan bergengsi dari Liberaturpreis di Jerman pada 2016, Tidak hanya itu novel "Amba" juga diterbitkan dalam bahasa inggris dengan "The Question of Red" dan terbit dalam bahasa Jerman dengan judul "Alle Farben Rot". Laksmi Pamuntjak semakin populer setela ia merilis novel "Aruma, dan "Lidahnya" pada tahun 2014.

Sosok Tokoh Motivator Indonesia Merry Riana


(Foto: blibli.com)

Penulis: Diva Saputra Ahmad Setiawan
Editor: Zulfah Mubarokah

Sukabumi, Suara Perempuan- Merry Riana merupakan seorang motivator sekaligus pengusaha yang berasal dari keturunan Tionghoa-Indonesia. Dinobatkan sebagai motivator wanita tersukses di Asia, Merry Riana lahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dan memiliki dua adik yang bernama, Aris dan Erick. Bukan seperti yang dibayangkan orang-orang, ia dibesarkan dari keluarga yang sederhana.

Di usianya yang masih terbilang muda, kabarnya Merry Riana sudah meraih satu juta dolar pertamanya, loh. Tentu aja, hal itu ia dapatkan dari hasil kerja kerasnya yang bukan-main untuk mewujudkan cita-cita dari nol. Dari hasil tersebut, Merry Riana juga semakin dikenal dan mulai membagikan ceritanya di berbagai seminar, buku, serta acara TV.

Salah satu buku yang sudah diterbitkan dan paling dikenal adalah berjudul 'Mimpi sejuta Dolar'. menariknya di tahun 2014 kisah keberhasilan Merry Riana ini juga diangkat menjadi film box office Indonesia yang bertajuk ‘Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar’, dan termasuk film sukses saat itu. Sampai saat ini, ia ini masih aktif sebagai pengusaha, investor, financial planner, dan content creator.

Disamping statusnya tersebut, ternyata Merry Riana juga seorang istri dan ibu dari dua anaknya. Di tahun 2004, ia memutuskan untuk menikah dengan Alva Christopher Tjenderasa, lalu dikaruniakan anak perempuan pertama dan anak bungsu laki-laki. Bahkan, selain mengunggah hal yang positif, Merry Riana juga sering memposting kebersamaannya dengan keluarga di media sosial pribadinya.

Mengenal Tokoh Sastrawan Djenar Maesa Ayu

 

(Foto: Suara.com)

Penulis: Diva Saputra Ahmad Setiawa
Editor: Zulfah Mubarokah

Sukabumi, Suara Perempuan- Djenar Maesa Ayu mengawali sebagai penulis cerita pendek (cerpen) dan kemudian menulis novel. Dia lahir dari keluarga yang dekat dengan seni. Ayahnya Sjumandjaya adalah seorang penulis dan sutradara terkemukan, sedangkan ibunya Toety Kirana adalah aktris era 1970.

Djenar Maesa ayu adalah salah satu penulis perempuan Indonesia yang cukup menonjol karya-karya nya yang bernuansa feminim membuat namanya dikenal dan diperhitungkan. 

Keberaniannya menulis bertema feminisme dianggap sebagai kelanjutan dari kebangkitan perempuan pengarang era 2000. Sejumlah cerpennya di anggap banyak kritikus sastra sebagai karya yang mengelaborasi tema seksualitas dan dunia perempuan.

Tak jarang, setiap karyanya terbit, selalu disertai kontrovesi. Dia tak segan memasukan sejumlah tema krusial seksualitas berikut idiom dan frasanya, seperti hubungan tak lazim dalam dunia seks, dan sejumlah tema pemberontakan perempuan yang selama ini masih jarang dijamah penulis lain.

Buku pertama yang Djenar buat berjudul "Mereka Bilang, Saya Monyet!' telah cetak ulang sebanyak delapan kali dan masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain itu buku ini juga akan diterbitkan dalam bahasa inggris.

Najwa Shihab


(Foto: Pinterest)

Penulis: Diva Saputra Ahmad Setiawan
Editor: Zulfah Mubarokah

Sukabumi, Suara Perempuan- Najwa Shihab lahir di Makassar, sulawesi selatan, pada tanggal 16 September 1977. Ia mempunyai seorang ayah bernama Quraish Shihab dan ibu yang bernama Fatmawaty.

Pernikahan Quraish Shihab dan Fatmawaty dikaruniai empat putri dan satu putra. Sedangkan Najwa Shihab sendiri merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Najwa Shihab mempunyai empat saudara kandung, satu orang kaka dan empat orang adik.

Najwa Shihab brkarier selama 17 tahun di Metro TV hingga akhirnya mengundurkan diri. acara Mata Najwa sempat dibawakan Najwa di Trans7, tetapi beralih ke media digital Narasi.

Selama menjadi pembawa berita maupun program gelar wicara, Najwa Shihab langganan menjadi nominasi Panasonic Gobel Awards sejak 2010. Najwa juga berhasil membawa piala Panasonic Gobel Award di tahub 2015, 2017, dan terakhir 2019.


Mengungkap Penyebab Tingginya Angka Putus Sekolah pada Anak Perempuan

 

(Foto: generasijuara.sch.id)

Penulis: Dhe Liana Futri
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan

Sukabumi, Suara Perempuan- Meskipun pendidikan dianggap sebagai hak dasar setiap individu, sayangnya, masih terdapat fenomena tingginya angka putus sekolah pada anak perempuan di beberapa daerah. Beberapa penyebab mendasar telah diidentifikasi sebagai faktor utama yang menyebabkan banyaknya anak perempuan yang menghentikan pendidikan mereka lebih awal.

Tingginya Beban Ekonomi Keluarga: Salah satu penyebab utama adalah beban ekonomi yang tinggi di beberapa keluarga. Ketidakmampuan keluarga untuk memenuhi biaya pendidikan, termasuk biaya buku, seragam, dan transportasi, dapat membuat banyak anak perempuan terpaksa menghentikan pendidikan mereka.

Tradisi dan Norma Sosial: Beberapa masyarakat masih menganut norma dan tradisi yang menempatkan perempuan dalam peran tradisional sebagai ibu rumah tangga. Pandangan ini dapat menghambat aspirasi pendidikan anak perempuan, dengan harapan mereka fokus pada peran domestik daripada pendidikan formal.

Jarak Tempuh dan Aksesibilitas: Faktor geografis seringkali menjadi kendala, terutama di daerah terpencil atau pedesaan. Jarak tempuh yang jauh ke sekolah dan kurangnya sarana transportasi dapat menjadi hambatan serius bagi anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan mereka.

Peran Gender dan Diskriminasi: Diskriminasi gender masih merupakan masalah serius di beberapa wilayah. Anak perempuan seringkali menghadapi diskriminasi dalam hal pemilihan pelajaran, peluang pendidikan, dan dukungan dari lingkungan sekolah.

Kehamilan Remaja dan Perkawinan Dini: Kehamilan remaja dan perkawinan dini seringkali menjadi penyebab lain dari putus sekolah pada anak perempuan. Tanggung jawab sebagai ibu muda dan tuntutan peran sebagai istri dapat membuat mereka kesulitan melanjutkan pendidikan

Kurangnya Kesadaran tentang Pentingnya Pendidikan: Beberapa keluarga mungkin tidak sepenuhnya menyadari manfaat pendidikan formal, terutama bagi anak perempuan. Kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan dapat menyebabkan keluarga tidak memberikan prioritas yang memadai untuk melanjutkan pendidikan anak perempuan.

Melihat realitas ini, upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Pemberian beasiswa, kampanye kesadaran, serta peningkatan aksesibilitas pendidikan dapat menjadi langkah-langkah kunci dalam mengurangi tingginya angka putus sekolah pada anak perempuan dan memberikan mereka peluang untuk menggapai impian mereka melalui pendidikan.

Mengenal Lebih Dekat Sosokk “Mamah Dedeh”, Fenomena Media Sosial yang Menghibur dan Edukatif

 

(Foto: Suara.com)

Penulis: Dhe Liana Futri
Editor: Diva Saputra Ahmad Setiawan

Sukabumi, Suara Perempuan-"Sok Mamah Dedeh" adalah fenomena unik di dunia media sosial yang semakin banyak menarik perhatian netizen. Di balik gayanya yang kocak dan penuh semangat, terdapat seorang tokoh yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan positif dan edukatif kepada pengikutnya.

"Sok Mamah Dedeh" sebenarnya adalah sosok bernama Dedeh Rosidah. Lahir dan besar di Bandung, Dedeh Rosidah memulai perjalanannya sebagai konten kreator di platform media sosial beberapa tahun yang lalu. Namun, popularitasnya melesat ketika ia menciptakan karakter "Sok Mamah Dedeh," sebuah tokoh fiksi yang menjadi ikon keceriaan dan motivasi.

Dedeh Rosidah dikenal dengan gaya berceritanya yang lucu dan penuh semangat. Dalam video-videonya, ia seringkali memberikan motivasi hidup, kiat-kiat positif, serta humor yang membuat pengikutnya tertawa dan merasa termotivasi. Dengan tagline "Sok Tau!" dan "Sok Tahu Banyak," Dedeh Rosidah menciptakan karakter yang mewakili kecerdasan positif dan semangat hidup yang tinggi.

Meski karakter "Sok Mamah Dedeh" lebih mengedepankan sisi humor, Dedeh Rosidah tidak ragu untuk menyelipkan pesan-pesan edukatif, terutama terkait kehidupan sehari-hari, kesehatan mental, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang di sekitar.

Pengikut "Sok Mamah Dedeh" semakin bertambah setiap harinya, menunjukkan bahwa gaya kreatif dan positif Dedeh Rosidah berhasil menarik hati banyak orang. Banyak netizen yang menyatakan bahwa konten-kontennya tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan inspirasi dan motivasi untuk menghadapi tantangan hidup.

Dedeh Rosidah juga sering berinteraksi dengan pengikutnya melalui komentar, memberikan kesan personal dan ramah kepada komunitasnya. Keberhasilannya dalam menciptakan tokoh "Sok Mamah Dedeh" tidak hanya membuatnya dikenal sebagai entertainer, tetapi juga sebagai sosok yang mampu membangun hubungan positif dengan pengikutnya.

Dengan terus berkembangnya popularitas "Sok Mamah Dedeh," Dedeh Rosidah membuktikan bahwa media sosial bukan hanya tempat untuk hiburan semata, tetapi juga wadah yang dapat digunakan untuk menyebarkan energi positif, motivasi, dan keceriaan. Bagi yang belum mengenalnya, yuk lebih dekat dengan "Sok Mamah Dedeh" dan nikmati setiap kisah positif dan menghibur yang disajikan.